Mengamati Rebaknya COVID-19 di Italia
BRORIVAI CENTER > News > News > Rilis Berita > Mengamati Rebaknya COVID-19 di Italia

Mengamati Rebaknya COVID-19 di Italia

Sebulan lalu, baru saja saya bertugas ke Italia dan menyempatkan berkunjung di beberapa kota antara lain Milan, Roma, Vinesia dan Brescia. Ketika itu, isu COVID-19 sudah mulai ramai diperbincangkan namun belum mengemuka sehingga saya pun masih sempat pesiar dan menikmati destinasi wisata menarik di negara itu”, ungkap Dr. Abdul Rivai Ras (23/03/20).

Menurut Rivai, rasanya tidak percaya kalau Italia kini mengalami musibah dahsyat dengan meluasnya wabah COVID-19 di hampir semua kota, dan sudah mengalami lockdown sejak dua pekan terakhir. Virus ini juga membuat ekonomi Italia macet. Bahkan konsensus di antara para ekonom memperkirakan bahwa ekonomi Roma tidak akan dapat lepas dari resesi pada tahun 2020 ini.

Perkembangan mutakhir, dalam mengatasi masalah keamanan global dan nasionalnya, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte meminta kepada Uni Eropa menggunakan dana penyelamatan bailout untuk mengurangi dampak gejolak ekonomi dari pandemi virus corona (COVID-19) menyusul meningkatnya jumlah kematian akibat corona di Negeri Pizza itu yang dinilai terbanyak di dunia, melampaui Tiongkok. Nampaknya Italia sedang berjuang dan terus bergulat dengan jumlah kasus virus corona terbanyak di Eropa itu. Korban tewas kini sudah mencapai 3.405 jiwa, dengan 41.000 lebih kasus, melampaui jumlah kasus kematian di Tiongkok yakni 3.253 jiwa.

Bagaimana dengan Indonesia?
Berdasarkan update data isu corona tertanggal 23 Maret, angka kasus corona di Indonesia terus meroket dan memicu adrenalin pemerintah untuk segera mengendalikan situasi nasional sejak kasus pertama diumumkannya oleh Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020. Saat ini kasus positif COVID-19 telah mencapai 579 kasus, 49 meninggal, dan 30 yang dapat disembuhkan, sekalipun kasus ini menjadi tertinggi di Asia Tenggara.

“Saatnya pemerintah segera mengambil kebijakan komprehensif termasuk mendorong Indonesia untuk meningkatkan pola kerjasama dan koordinasi antar-negara dalam menghadapi wabah corona sebagai isu keamanan global”, tegas pengajar Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia.  Lebih lanjut pendiri Brorivai Center mengatakan suka atau tidak suka, saat ini kita sudah memasuki krisis global tahap pertama sehingga mengharuskan tindakan global yang konkrit dan menyeluruh.

Author: BRC