BRC Official Info

DATA COVID-19 GLOBAL 5 MEI 2020 (8 MEI, 07:00 GMT+7)
3.726.292 KASUS, 257.405 MENINGGAL, 215 NEGARA/AREA-TERITORI
DATA COVID-19 DI INDONESIA 8 MEI 2020, 16:00 WIB

Berpikir Besar Demi Target Besar

BRC Official Info adalah media link komunikasi data dan informasi global (news & shared link generation) berbasis Geographical Information System (GIS) yang ditransmisikan Kantor Jaringan Riset & Respons Brorivai Center Jakarta, diakses dan diterima dari berbagai sumber utama (multipoint); situs resmi nasional pemerintah, organisasi non pemerintah, organisasi internasional non pemerintah, pusat-pusat studi-riset stratejik lokal dan global, info-media kredibel, serta hasil research in action – data observasi yang terkonfirmasi oleh Crew dan Analis BRC di lapangan.

Strategic Communication Mission

Isu COVID-19 & Arah Geopolitik Global

Ikut serta mengulas masalah global dan berperan dalam mengkomunikasikan konsep, proses, atau “data” yang memenuhi tujuan strategis dalam mendukung upaya penanganan risiko lanjutan (manajemen krisis), menyelenggarakan info-sharing,  koordinasi antar lembaga dan segenap stakeholders, menyampaikan  informasi peristiwa kritis dan kedaruratan akibat bencana alam maupun non-alam dan buatan manusia kepada publik agar mencegah kepanikan.

KONSEP STRATCOM DAN RESPONS COVID-19

Pengantar Online StratCom

Apa itu “Strategic Communication”?

Prinsip Risiko Komunikasi Hadapi COVID-19

Implikasi COVID-19 Bagi Dunia Usaha

COVID-19: Indonesia dan Komunikasi Krisis

Apa yang dilakukan seorang komunikator strategis?
Mendefinisikan komunikasi strategis sebagai “penggunaan komunikasi yang disengaja oleh suatu organisasi untuk memenuhi misinya.” Identifikasi konsep-konsep kunci, termasuk analisis audiens, penetapan tujuan, dan strategi pesan. Istilah strategis paling sering digunakan dalam konteks manajemen dan kekuatan pengambilan keputusan dalam menghadapi situasi krisis.

BRC Official Info & Strategic Communication

Mengkomunikasikan situasi dan dinamika lingkungan strategis, menyajikan info-data terkini tentang sebaran virus corona COVID-19 dengan menyuguhkan informasi yang bersifat update secara berkala. Perubahan dan penambahan data per hari, per jam bahkan per menit akan terus dilakukan sesuai laporan perkembangan dari jaringan riset dan tanggap sosial BRC yang tersebar dan terkoneksi secara online maupun offline.

Model StratCom WHO

WHO StratCom Framework

Model Kerangka Kerja StratCom WHO

BRC juga mengembangkan model konsep StratCom WHO. BRC ikut mengartikulasikan kepentingam pemerintahan global dan nasional dalam bidang keselamatan (kesehatan) dan keamanan. Untuk itu BRC turut membantu meyakinkan langkah-langkah awal kebijakan pemerintah, regulasi politik-hukum dan etika serta standar operating prosedure dalam menghadapi situasi keamanan dan keselamatan insani. Seluruh kegiatan sedapat mungkin ditopang dengan infrastruktur sistem komunikasi dan media informasi melalui akses riset dan aset jaringan lokal, nasional dan global yang berbasis pada data “real time”, valid dan dapat diunggulkan.

Real-Time Pandemic Information (BRClink)

BRC Alert!

Prediksi Puncak COVID-19

COVID-19 Updates: Info Global

Situation Report WHO ke-105
2 Mei 2020  – 10:00 CEST (3 Mei), WHO Situation Report 104, 
Data yang dilaporkan WHO, total (baru) kasus dalam 24 jam terakhir: Global  Negara/Kawasan 215 sebanyak 3 435 894 cases (86 108), 239 604 deaths (976) 

  1. Kawasan Eropa: 1 544 145 cases (25 250), 143 987 deaths (1320)
  2. Kawasan Amerika:1 433 756 cases (49 115) , 77 827 deaths (-582)
  3. Mediterania Timur: 206 299 cases (5690), 7971 deaths (100)
  4. Kawasan Pasifik Barat: 152 773 cases (1329),6258 deaths (29)
  5. Kawasan Asia Tenggara: 67 673 cases (3626), 2463 deaths (88)
  6. Kawasan Afrika: 30 536 cases (1098), 1085 deaths (21)

CSSE Johns Hopkins University

5 Mei 2020 Pukul 15:00 WIB, Johns Hopkins University Global: Terkonfirmasi: 3,585,357 , Meninggal 251,718 dari 187 negara/kawasan, Maerika tertinggi 1,180,634 kasus

Data Worldometers

5 Mei 2020 Pukul 12:00 WIB: Data yang tercatat menurut  Worldometers Global – Coronavirus Cases: 3,658,288 view by country Deaths: 252,566 Recovered: 1,203,064

Curva Pelintasan Infeksi Global

Pelacak di atas, oleh Our World in Data, memetakan lintasan dari semakin banyak negara dengan lebih dari 100 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi. Karena jumlah infeksi baru yang dilaporkan di seluruh dunia terus bertambah, negara mana yang memenangkan pertempuran melawan Covid-19, dan yang masih berjuang untuk memperlambat laju infeksi?

TRTWorld Corona Virus Tracking

Global Views: Ramadan di Tengah Wabah COVID-19

COVID-19 Updates: Info Nasional

BRClink Nasional

Pukul 16:00 Jumlah infeksi virus corona di Indonesia terkonfirmasi Positif
12,071, Sembuh, 2,197, Meninggal 872. Info laporan data resmi dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang dihimpun Kantor Jaringan Research  & Response  (R&R) Brorivai Center dan Tim Aksi BRC Lawan COVID-19 di Jakarta.

Provinsional

  1. DKI JAKARTA Jumlah Kasus : 4,539 (37.6%)
  2. JAWA BARAT Jumlah Kasus : 1,252 (10.4%)
  3. JAWA TIMUR Jumlah Kasus : 1,124 (9.3%)
  4. JAWA TENGAH Jumlah Kasus : 798 (6.6%)
  5. SULAWESI SELATAN Jumlah Kasus : 607 (5.0%)
  6. BANTEN Jumlah Kasus : 446 (3.7%)
  7. Selanjutnya Click Data Gugus Tugas COVID-19

ESSC Geoportal Kawal COVID-19

Early Warning Service


Presiden Joko Widodo atau Jokowi menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2020 untuk menetapkan virus Corona Covid-19 sebagai bencana nasional (13/04). Dalam keputusan tersebut dituliskan bahwa aturan dijalankan saat Keppres diteken. Kemudian dalam aturan tersebut dijelaskan penanggulangan bencana nasional akan dilaksanakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Hal tersebut juga sudah tertulis dalam Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2O2O tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah  daerah. Kemudian, dalam Keppres tersebut juga berisi, kepala daerah menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (Covid-19) di daerah. Penetapan kebijakan daerah juga harus memperhatikan kebijakan pemerintah pusat.

Info Kebijakan Pemerintah

Info Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)di Indonesia

Berbagai protokol pencegahan telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk memperlambat penyebaran virus corona. Salah satunya dengan memberlakukan PSBB di beberapa daerah yang terdampak COVID-19. Adapun wilayah yang memberlakukan PSBB sebagai berikut:

Info PSBB DKI Jakarta

Pada 10 April 2020 resmi diberlakukannya PSBB di Jakarta. Masa berlakunya terhitung  14 hari  dan sudah dua kali perpanjangan. Telah diterbitkan Peraturan Gubernur nomor 33 tahun 2020 yang mengatur tentang PSBB di Jakarta.

Info PSBB Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Depok)

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan PSBB di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Kota Depok mulai berlaku efektif pada Rabu (15/4). Di 5 wilayah ini akan dimulai di hari Rabu dini hari, tanggal 15 bulan April 2020 ini selama 14 hari.

Info PSBB Banten

Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan berlaku sejak Sabtu 18 April 2020 pukul 00.01 WIB

Info PSBB Sulawesi Selatan (Makassar)

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menetapkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dalam rangka menangani penyebaran virus corona (Covid-19). Keputusan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/257/2020, yang ditandatangani Terawan pada 16 April.

Penerapan PSBB tidak diberlakukan seragam di semua daerah tergantung kondisi masing-masing daerah yang dinilai kritis dan PSBB baru dapat ditetapkan oleh Menkes.

Menimbang Skenario Lockdown atau Darurat Sipil?

Pembatasan Sosial Berskala Besar menjadi opsi Pemerintah R.I. untuk menghambat COVID-19. Rujukan Pemerintah memilih untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Jika keadaan menjadi abnormal, maka Pemerintah Pusat juga menyiapkan status Darurat Sipil berdasarkan aturan ‘jadul’, yaitu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) No 23 Tahun 1959 Tentang Keadaan Bahaya.

PSBB sendiri diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 31 Maret 2020. Di hari yang sama, Presiden juga menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Status Darurat Kesehatan Masyarakat. Sesuai dengan UU, PSBB ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang berkoordinasi dengan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan para Kepala Daerah.

Penekanan Pemerintah: Dengan berlakunya PSBB ini, para Kepala Daerah tidak membuat kebijakan sendiri-sendiri yang tak terkoordinasi dalam penanganan pandemi COVID-19. Pihak keamanan, Polri, juga bisa mengambil tindakan hukum agar PSBB berjalan dengan baik dalam mencegah penyebaran COVID-19 semakin meluas. Indonesia juga bisa belajar dari pengalaman negara lain dalam mencegah penyebaran virus ganas itu, meskipun tidak berarti bisa meniru hal ini begitu saja.

Inti kebijakan pemerintah, pertama, kesehatan masyarakat paling diutamakan. Penyebaran COVID-19 harus dikendalikan dan pasien terpapar harus diobati. Kedua, menyiapkan jaring pengaman sosial untuk lapisan masyarakat agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pokok dan daya beli. Ketiga, menjaga dunia usaha, baik makro, kecil, dan menengah tetap beroperasi dan menjaga penyerapan tenaga kerja.

Info Joint Research: Prediksi Kematian di Indonesia Bisa Capai 2,6 Juta Akibat COVID-19

Waspadalah dengan Bencana!

Salah satu publikasi menarik yang dihimpun BRC Official Info berdasarkan hasil riset yang dilakukan para ahli matematika dari lintas perguruan tinggi Indonesia, di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Gadjah Mada (UGM)  tentang adanya potensi kematian yang akan mencapai 2,6 juta orang.

Penelitian ini menggambarkan penentuan jumlah kasus, puncak, dan akhir pandemi di Indonesia, mereka menggunakan model SEIQRD (Susceptible Exposed Quarantine Recovery Death).

Dua hal yang akan dicari, pertama melihat bagaimana proyeksi dinamika kasus saat disimulasikan beberapa skenario intervensi, kedua menganalisis data provinsi kepadatan kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia, serta provinsi mana saja yang memiliki persentase tertinggi untuk kasus tak terdeteksi.

Untuk menganalisis itu semua, tim kemudian melakukan pendekatan Basic Reproductive Number (R), dengan harapan nilai R harus kurang dari satu (R<1). Ini bisa dicapai dengan melakukan berbagai intervensi pemerintah.

Intervensi dari pemerintah dilakukan untuk mengurangi Reproduksi (R) virus. Langkah ini bisa juga dikatakan untuk mengurangi jumlah orang yang terinfeksi oleh setiap kasus yang dikonfirmasi. Mengurangi reproduksi virus berarti juga menetapkan “R” berada di bawah satu (R<1), dengan menjaga angka rata-rata penularan dari setiap kasus tetap kurang dari satu orang.

Dari perhitungan yang tim lakukan, berdasarkan pada kasus kematian antara satu hingga empat persen dan dihitung menggunakan estimasi nonlinear kalman filter, diperoleh simulasi kurang lebih satu orang (R) bisa menginfeksi tiga orang.

Tujuan Mitigasi:

  • memperlambat penyebaran, tapi angka reproduksi tetap di atas 1
  • tujuannya utamanya agar rumah sakit dapat menampung yang memerlukan
  • epidemi selesai apabila hampir seluruh penduduk terinfeksi dan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Tujuan Supresi:

  • menekan laju penyebaran agar angka reproduksi di bawah 1
  • laju penambahan kasus baru akan terus berkurang hingga akhirnya penyakit hilang dari masyarakat
  • setelah penyakit hilang, ada kemungkinan terjadinya gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Dari data-data yang telah dikumpulkan, dilakukan tiga skenario. Pertama, skenario tanpa intervensi; kedua skenario mitigasi; dan terakhir memakai supresi.

Hasilnya, jika tanpa intervensi, maka jumlah kematian akibat COVID-19 di Indonesia bisa mencapai 2,6 juta orang. Durasi epidemi diperkirakan berlangsung sekitar 4 hingga 5 bulan, dengan puncak kasus infeksi mencapai 55 juta orang pada Mei 2020, dan puncak kebutuhan ICU sekitar 6 juta orang.

Catatan: Terbentuk herd immunity atau imunitas kelompok sehingga tidak terjadi epidemi gelombang kedua.

Sedangkan jika mitigasi diterapkan pada 15 Maret 2020, maka jumlah kasus virus corona akan jauh lebih sedikit, kendati nilai R masih lebih dari 1 (R>1). Jumlah kasus kematian diperkirakan bisa mencapai 1,2 juta orang. Epidemi berlangsung selama 10 hingga 13 bulan, dengan puncak kasus infeksi 5,5 juta orang di awal Juli 2020, dan puncak kebutuhan ICU sekitar 600 ribu orang.

Catatan: Terbentuk imunitas kelompok sehingga terjadi epidemi gelombang kedua.

Perlu dicatat bagi para jaringan pembaca Brorivai Center dan masyarakat luas, fungsi esensial dari suatu model matematika epidemiologi adalah sebagai alat untuk mensimulasikan suatu strategi, juga merupakan cara untuk melihat potensi kondisi yang terjadi di masa yang akan datang.

Tim Aksi BRC Melawan Covid-19 menilai bahwa, dalam penelitian ini bukan melihat angka atau jumlah estimasi, tapi apa yang harus kita lakukan untuk mencegah skenario terburuk dari hasil penelitian yang sudah dilakukan.

Catatan: Ada kemungkinan terjadi gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Dari simulasi tersebut, terlihat intervensi dari pemerintah dengan cara menerapkan lockdown, physical distancing, PSBB, Work From Home (WFH), dan upaya lain yang membatasi mobilitas warga bisa mengurangi angka penularan yang cukup signifikan.

Penerapan PSBB di Jakarta maupun potensi di daerah lain diharapkan dapat efektif dan akan bisa merubah nasib manusia dan bangsa ini dari akibat pilihan atau tindakan yang kita lakukan hari ini. Dengan kesadaran tinggi, melakukan tertib sosial dan taat aturan serta patuh pada anjuran pemerintah akan dapat meminimalisir korban jiwa!

Pada awal 2020, dunia memandang Cina sedang bergulat dengan wabah yang tampaknya tidak terkendali. Dua bulan kemudian, situasinya sangat berbeda. Setelah upaya pengujian dan karantina yang agresif, wabah Novel Coronavirus (COVID-19) di Cina tampaknya mulai meningkat. Sekarang, banyak negara di dunia berada dalam tahap awal untuk mengelola wabah mereka sendiri. 15 Maret 2020, menandai tonggak statistik yang signifikan untuk ini, karena kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di luar China melampaui total China sendiri.


Darurat Global: Corona Turut Luluhlantakkan Israel

Pada 31 Desember 2019, otoritas Cina melaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang wabah pneumonia yang tidak diketahui di Wuhan. Para ahli telah mengidentifikasi apa penyebab penyakit ini memberi nama virus corona baru 2019-nCoV. WHO memberi nama resmi penyakit itu COVID-19, dan pada 11 Maret, WHO mengumumkan wabah itu sebagai pandemi global.

Mengamati Rebaknya COVID-19 di Italia

Pandemi global virus corona masih terus mengalami perkembangan, mulai dari peningkatan jumlah kasus, angka kematian, dan jumlah pasien sembuh. Tim Aksi BRC melawan COVID-19 mengamati data real time seperti yang dikumpulkan oleh John Hopkins University dan sejumlah lembaga riset dunia, jumlah infeksi per Senin (6/4/)pagi adalah sebanyak 1,27 juta kasus dengan jumlah kasus kematian yang terjadi adalah 69.309. Dari analisis risk assessment WHO menilai kesehatan dunia pada level “very high”.

Kasus-kasus ini tersebar di ratusan negara di dunia. Jumlah kasus terbanyak tersebar di AS, yaitu lebih dari 300.000 kasus, disusul Spanyol, Italia, Jerman, dan Perancis. Sementara, untuk jumlah kematian, paling banyak terjadi di Italia, disusul Spanyol, AS, Perancis, dan Inggris.

Info Riset Intelijen COVID-19

Berdasarkan kajian Badan Intelijen Negara (BIN), penyebaran virus corona (COVID-19) diprediksi akan mencapai puncak pada Juli 2020 dengan 106.287 kasus. Kajian BIN memprediksi kasus positif COVID-19 ini akan mengalami peningkatan setiap bulannya sebelum mencapai puncak, 1.577 di akhir Maret, 27.307 di akhir April, 95.451 di akhir Mei, dan 105.765 di akhir Juni.

Diperkirakan juga pada akhir Maret ini akurasinya 99%. Terdapat 50 kabupaten/kota prioritas dari 100 kabupaten/kota yang memiliki risiko tinggi terkait peningkatan penyebaran virus corona ini. Sebesar 49% wilayah itu berlokasi di Pulau Jawa. Namun demikian, kajian BIN ini bisa tidak terjadi bila langkah-langkah pencegahan terus dilakukan dengan baik dan optimal.

Pembatasan Gerak Sosial

Mari berpartisipasi melindungi sesama.
Lindungi diri Anda dan yang tercinta dari penularan COVID-19 dengan mengunduh PeduliLindungi pada https://www.pedulilindungi.id
Unduh sekarang juga untuk hentikan penularan Coronavirus di Indonesia!

Dinamika jarak sosial dalam kehidupan sehari-hari harus diperhatikan dan diarahkan. Keakraban antar kelompok berbeda digencarkan, sehingga semua kelompok memahami dan menerima. Terkait penyebaran virus corona telah melintasi banyak negara, sekitar 181 negara terpapar, sehingga dinyatakan sebagai pandemi global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Click, Deteksi Teknologi Virtual Terpapar Virus Corona!

Click Dampak Pembatasan Interaksi!

Berbagai upaya dilakukan untuk menanggulangi pandemi, antara lain dengan pembatasan interaksi antar anggota masyarakat (social distancing dan physical distancing). Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, pembatasan sosial berskala besar merupakan bagian dari respon kedaruratan dan bertujuan mencegah meluasnya penyebaran penyakit.

Kegiatan pembatasan meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat/fasilitas umum (Pasal 59). Saat ini, sejumlah pemerintah daerah telah meliburkan sekolah dan kampus agar siswa/mahasiswa bisa belajar di rumah (distance learning). Lembaga keagamaan (MUI) juga mengeluarkan fatwa yang menganjurkan ibadah di rumah dan tidak ke masjid sementara waktu.

Peringatan!: Sebagai mitigasi darurat, anggota masyarakat yang berinteraksi dengan penderita COVID-19 atau mengunjungi wilayah terinfeksi wabah, maka dilakukan karantina rumah atau wilayah, serta dipantau kondisinya selama masa inkubasi virus.

Bila kondisi sehat (uji virus negatif), maka bisa tetap di rumah dan mengurangi aktivitas luar. Dan jika hasil tesnya positif, maka akan dirawat di rumah sakit dan mungkin diisolasi di ruang khusus. Begitu pula seandainya kondisi pasien memburuk dan akhirnya meninggal, maka perawatan jenazah juga harus dilakukan secara khusus.

Perlukah Kita Melakukan Rapid Test?

Menurut dr. Dwi Nindya Ayu, M.S., CEO Brorivai Center dan Penanggungjawab Tim Aksi BRC Lawan COVID-19 menjelaskan bahwa rapid test merupakan pemeriksaan cepat dengan instrumen yang tidak memerlukan tahapan yang rumit.

Cara ini diawali ketika para ilmuwan dari Departemen Ilmu Teknik Universitas Oxford dan Oxford Suzhou Centre for Advanced Research (OSCAR) yang mengembangkan teknologi pengujian cepat (rapid test) untuk virus corona baru SARS-CoV-2 (COVID-19). Tim ahli yang terlibat saat itu telah bekerja untuk meningkatkan kemampuan uji coba ketika virus menyebar secara internasional.

Tes baru ini jauh lebih cepat dan tidak memerlukan instrumen yang kompleks. Misalnya pada tes viral load sebelumnya membutuhkan 1,5 hingga 2 jam untuk memberikan hasil.

Tim peneliti telah mengembangkan tes baru, berdasarkan pada teknik yang mampu memberikan hasil hanya dalam setengah jam – tiga kali lebih cepat daripada metode saat ini. Kehebatan tes baru ini terletak pada desain deteksi virus yang secara khusus dapat mengenali fragmen RNA dan RNA SARS-CoV-2 (COVID-19).

Tes ini memiliki pemeriksaan bawaan untuk mencegah positif atau negatif palsu dan hasilnya sangat lumayan akurat. Selain itu, teknologinya relatif sensitif. Artinya bahwa pasien pada tahap awal infeksi dapat diidentifikasi lebih cepat, berpotensi dapat membantu mengurangi penyebaran coronavirus SARS-CoV-2 (COVID-19). Teknologi ini hanya membutuhkan blok panas sederhana yang mempertahankan suhu konstan untuk transkripsi balik RNA dan amplifikasi DNA, dan hasilnya dapat dibaca dengan mata telanjang.

Karena itu harapan dr. Dwi Nindya adalah agar pemerintah dapat melakukan cara tersebut dalam komunitas tertentu untuk bisa melokalisir penyebaran. Hal ini sangat penting digunakan di daerah-daerah perkotaan termasuk pedesaan yang dinilai adanya titik konsentrasi penyebaran dan sekaligus disiapkan di pusat-pusat kesehatan masyarakat.

Saya bangga dengan tim dokter Indonesia yang saat ini telah mengembangkan teknologi yang bermanfaat tersebut untuk dapat memberikan kontribusi dalam memerangi CoV-19. “Saya berharap kepada pemerintah agar mengembangkan perangkat terintegrasi sehingga tes dapat digunakan di klinik, bandara, atau bahkan untuk digunakan di kantor maupun di rumah”, tambahnya.

Faktor kecepatan sangat penting dalam menghadapi pandemi coronavirus. Dengan memberikan hasil lebih cepat memungkinkan kita segara mendeteksi positif COVID-19 dan menindaklanjuti pasien dalam isolasi atau karantina. Meski begitu, untuk memastikan semua itu sebagai bentuk double-check dr. Dwi Nindya mengingatkan bahwa tes ini harus dicek lagi agar tingkat akurasi dapat dipastikan.

Diperlukan juga tes PCR berbasis laboratorium karena rapid test mencari antibodi, bukan virus itu sendiri. Oleh karena itu, ia menyarankan, jika saat rapid test ditemukan gejala COVID-19, maka tetap harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan PCR karena memiliki sensitifitas yang jauh lebih tinggi dibanding pemeriksaan rapid.

CEO BRC: Hentikan Polemik Penanganan COVID-19!

Kita harus mampu melawan COVID-19. Ayo kita membantu pemerintah mengatasi masalah pandemi global. Di hari kesehatan dunia, rasanya kita tidak banyak berucap kecuali terus berjuang dan bangkit untuk meneguhkan tekad bersama melawan virus corona. We must be optimistic about overcoming COVID-19.

Dr. Dwi Nindya Ayu, M.S – CEO BRC

dr. Dwi Nindya Ayu, MS.
CEO Borivai Center dan Tim BRC Aksi Lawan Covid-19

dr. Dwi Nindya Ayus, M.S - CEO & Tim Aksi BRC Lawan COVID-19

Tips Ringan Untuk Cegah Penularan

Apa itu Virus Corona?

Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus baru yang belum teridentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus ini menyebabkan penyakit saluran pernapasan (seperti flu) dengan gejala seperti batuk, demam, dan pada kasus yang lebih parah, pneumonia.

Anda dapat melindungi diri Anda dengan mencuci tangan secara rutin dan menghindari menyentuh wajah Anda. Penyebaran utama coronavirus baru ini adalah melalui kontak dengan orang yang terinfeksi saat mereka batuk atau bersin, atau melalui tetesan air liur atau cairan hidung. Karena itu, cegah penularan ini sebaiknya selalu “jaga jarak aman”.

Hindari Berita Hoaks!

Hati-hati dengan data dan berita hoaks tentang info virus corona. Biasakan membaca banyak sumber atau sebaliknya jangan berdasarkan pada satu sumber saja. Perhatikan keabsahan sumber informasi tentang isu-isu apapun itu khususnya dalam melawan masalah virus corona.

BRC Official Info menggali banyak sumber dan menjaga akurasi dan keabsahan data sebelum ditransmisikan ke ruang publik. Data yang kami komunikasikan adalah terpercaya untuk tujuan diseminasi informasi yang benar, cepat dan tepat serta dapat memperkaya khasanah para peneliti dan aksi cepat tanggap darurat dalam masa krisis.