BRORIVAICENTER.COM, JAKARTA — Suasana pagi di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara berubah mencekam ketika sebuah mobil berlogo Makan Bergizi Gratis (MBG) kehilangan kendali dan menabrak barisan siswa yang tengah bersiap mengikuti kegiatan rutin sekolah. Insiden yang terjadi pada Kamis (11/12/2025) ini menyebabkan 18 orang menjadi korban, mayoritas adalah siswa serta satu guru.
Peristiwa tersebut terekam jelas dalam video warga dan segera viral di media sosial, memantik kepedulian publik sekaligus mempertanyakan sistem keselamatan operasional program MBG—program nasional yang selama ini distribusinya menjangkau ribuan titik sekolah.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia, Abdul Rivai Ras, menyebut insiden tersebut sebagai pengingat keras bahwa standar keselamatan dalam program MBG harus diperkuat.
“Insiden ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar operasional dan akuntabilitas pelaksana,” tegas Rivai dalam pernyataan tertulis, Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, aspek keselamatan tidak boleh dinegosiasikan, terutama mengingat distribusi MBG hampir selalu berlangsung di area publik yang dipadati anak-anak. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh, mulai dari pihak pengelola, mekanisme pengawasan, hingga pelatihan kecakapan mengemudi.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jakarta Utara, Sahrul Gunawan Siregar, mengonfirmasi bahwa mobil tersebut dikendarai oleh sopir pengganti dari Yayasan Darul Esti, bukan sopir tetap yang biasanya bertugas.
Informasi awal mengarah pada unsur kelalaian pengemudi. Diduga sopir salah menginjak pedal—menginjak gas saat seharusnya menekan rem—hingga mobil melaju tak terkendali, menabrak pagar sekolah, lalu menghantam barisan siswa.
Walau dikategorikan sebagai human error, Sahrul menekankan bahwa kesalahan semacam ini tidak boleh terjadi di area sekolah yang merupakan ruang paling rentan terhadap kerumunan anak-anak.
Abdul Rivai menekankan bahwa penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP) menjadi urgensi yang tidak bisa ditunda. Ia menegaskan bahwa seluruh pengemudi—baik sopir tetap maupun sopir pengganti—harus:
“Tidak boleh ada penugasan pengemudi di luar daftar resmi,” ujarnya dengan tegas.
Rivai menambahkan bahwa sejumlah masalah yang sempat muncul dalam pelaksanaan MBG di berbagai daerah, termasuk kasus keracunan massal, sebagian besar berasal dari ketidakpatuhan terhadap SOP, bukan dari desain program.
Insiden di SDN Kalibaru ini dipandang sebagai momentum bagi Badan Gizi Nasional (BGN) dan seluruh mitra pelaksana untuk memperkuat sistem keselamatan program. Mulai dari seleksi personel, pelatihan pengemudi, standar kendaraan, hingga mekanisme kontrol dan audit rutin.
Dengan lebih dari 18 korban yang terdampak, kejadian ini menjadi peringatan bahwa program sebaik apa pun tetap berisiko bila tidak dijalankan sesuai prosedur.